Dalam perjalanan menulis, saya perlahan menyadari bahwa idola tidak selalu hadir sebagai sosok yang ingin ditiru sepenuhnya. Mereka lebih sering hadir sebagai penanda arah—pengingat tentang bagaimana saya ingin berdiri sebagai penulis, bukan bagaimana saya ingin terlihat. Saya tidak pernah tertarik pada karya yang memaksa emosi pembacanya. Bukan karena emosi itu salah, tetapi karena hidup sendiri sudah cukup bising. Yang saya cari justru penulis-penulis yang berani menahan diri, yang percaya bahwa keheningan juga bisa menjadi medium cerita. Dari sanalah saya mulai menemukan idola-idola saya dalam menulis. Salah satu nama yang paling sering saya rasakan kedekatannya adalah Kazuo Ishiguro. Dalam novel-novelnya, Ishiguro tidak tergesa menjelaskan konflik atau emosi tokohnya. Ia membiarkan perasaan tumbuh pelan, sering kali melalui ingatan, penyesalan, dan hal-hal yang tidak pernah benar-benar terucap. Yang menarik, konflik terbesar dalam karyanya hampir selalu bersifat batinia...
La Academic
Our Goal is to share open access learning materials, help students to publish article faster, to analyze data efficiently, Academic Writing Support.